KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1.
PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN
Seiring berjalannya waktu,tidak
terasa saya sudah mengikuti program pendidikan guru penggerak selama kurang
lebih 6 bulan. Banyak materi dan pengalaman yang telah saya dapatkan selama
mengikuti kegiatan ini,dari awal hingga saat ini, dan sekarang sudah memasuki
modul 3.1 tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Adapun
materi-materi yang telah saya pelajari,memiliki kaitan antar satu dengan yang
lainnya. Berikut saya akan paparkan koneksi antar materi modul 3.1.pengambilan
keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.
1.
Bagaimana
pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh
terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran
diambil?
Menurut
pemikiran Ki Hajar Dewantara, salah satu peran guru adalah sebagai penuntun
yang berkewajiban untuk menuntun segala kekuatan yang dimiliki anak sesuai
dengan kodrat jaman dan kodrat alam. Salah satu cara adalah dengan menjadi
pemimpin pembelajaran yang berpihak pada murid. Sebagai seorang pemimpin
pembelajaran, guru harus bisa mengarahkan dan menuntun muridnya agar berkembang
sesuai dengan karakter, keunikan, dan potensi yang dimiliki setiap anak. Proses
pengarahan dan penuntunan yang dilakukan guru erat kaitannya dengan salah satu
filosofi Ki Hajar Dewantara yaitu filosofi Patrap Triloka. Ketiga Patrap
Triloka yang dimaksud adalah Ing Ngarso Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karso,
Tut Wuri Handayani.
- Ing Ngarso Sung Tulodo, berarti guru sebagai
panutan yang senantiasa berada di depan dan memberikan tauladan bagi
murid-muridnya. Guru harus bisa memberikan keteladanan setiap mengambil
keputusan terhadap murid-muridnya dan orang-orang di sekitarnya. Inilah prinsip
pertama yang harus dimiliki oleh seorang guru. Keteladanan menjadi sebuah hal
yang penting karena akan berpengaruh terhadap tingkat kepercayaan orang-orang
yang dipimpinnya terhadap dirinya.
- Ing Madya Mangun Karso, berarti guru harus
senantiasa berada bersama muridnya, untuk membimbing, menuntun, dan mengayomi
murid-muridnya. Dengan selalu berada bersama muridnya, guru dapat mengetahui
kebutuhan belajar murid. Salah satu kebutuhan belajar murid adalah dapat
mengambil sebuah keputusan secara tepat. Dengan Ing Madya Mangun Karso, guru
dapat mempraktikkan coaching terhadap murid-muridnya dalam mengambil keputusan
termasuk keputusan yang mengandung unsur dilema etika. Dengan demikian potensi
murid menjadi lebih berkembang sehingga dapat mengambil keputusan-keputusan yang
tepat bagi dirinya.
- Tut Wuri Handayani, berarti guru sebagai
motivator yang dapat mendorong murid-muridnya untuk terus berkembang dan maju
serta dapat mengambil keputusan-keputusan yang tepat untuk mengembangkan
potensi yang dimilikinya.
2.
Bagaimana
nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip
yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?
Setiap orang
pasti memiliki nilai-nilai kebajikan di dalam dirinya, tidak terkecuali guru.
Nilai-nilai kebajikan tersebut dapat mempengaruhi dirinya dalam menciptakan
pembelajaran yang berpihak pada murid, termasuk dalam mengambil sebuah
keputusan. Nilai-nilai
kebajikan yang ada dalam diri seorang guru
akan membimbing dan menuntun guru dalam mengambil sebuah keputusan yang tepat
dan benar. Semakin dalam nilai-nilai kebajikan tertanam dalam diri seorang
guru, maka guru akan semakin bijak dalam mengambil sebuah keputusan.
3.
Bagaimana
kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan
berkaitan dengan kegiatan “Coaching” (bimbingan) yang diberikan pendamping atau
fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian
pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan
tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas
pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi
“Coaching” yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.
Coaching
merupakan proses kolaborasi yang berfokus pada solusi,berorientasi pada hasil
dan sistematis, di mana coach memfasilitasi peningkatan atas performa
kerja,pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee
(Grant,1999). Coaching menjadi salah satu proses yang dilakukan guru untuk
membuat keputusan yang tepat dan efektif dalam menggali potensi peserta didik.
Pengambilan keputusan yang tepat bisa terlaksana dengan coaching melalui
pertanyaan-pertanyaan yang reflektif. Peran guru sebagai coaching hendaklah
tidak mengajarkan atau menginstruksikan sesuatu,tidak juga memberikan saran
atau solusi secara langsung. Guru membantu peserta untuk belajar dan
bertumbuh,melalui pertanyaan-pertanyaan efektif. Pertanyaan-pertanyaan yang
dapat memicu kesadaran diri dan memprovokasi tindakan kreatif. Menciptakan
suasana nyaman dan rasa percaya untuk memberikan kebebasan dan kemerdekaan
dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan reflektif untuk menjadi murid kuat
secara kodrati, dengan demikian diharapkan guru dapat menuntun peserta didik
untuk menemukan solusi di setiap permasalahan dan meraih prestasi terbaik
dengan kekuatan yang dimilikinya. Demikianpun dalam hal mengambil sebuah
keputusan, tentunya dibutuhkan pertanyaan-pertanyaan reflektif yang akan
menstimulus kerja otak peserta didik untuk bekerja secara maksimal dan
melakukan metakognisi untuk menentukan sebuah keputusan yang diambil dari hasil
penggalian potensi mereka. Dengan demikian, guru sebagai pendidik hendaknya
selalu menerapkan praktik Coaching agar peserta didik terbiasa dengan situasi
yang menstimulus (melalui pertanyaan-pertanyaan reflekktif) otaknya agar dapat
menyelesaikan masalahnya sendiri,termasuk dapat mengambil sebuah keputusan yang
tepat untuk dirinya sendiri dan orang lain.
4.
Bagaimana
kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan
keputusan?
Seorang guru yang
profesional harus mampu mengelola emosinya dengan baik, yang akan berdampak
pada keputusan yang akan diambilnya. Jika secara sosial emosionalnya baik,
penuh empati terhadap orang lain, maka keputusan yang diambilnya pasti akan
tepat dan bermanfaat bagi orang lain.
5.
Bagaimana
pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada
nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?
Nilai-nilai yang
dianut oleh seorang guru, akan berpengaruh terhadap keputusan yang diambilnya.
Jika nilai-nilai yang dianutnya adalah nilai-nilai positif, maka keputusan yang
diambil akan tepat dan dapat dipertanggungjawabkan dan begitupun sebaliknya
jika nilai-nilai yang dianutnya cenderung negatif, maka keputusan yang
diambilnya hanya untuk kepentingan pribadinya dan tidak akan bermanfaat bagi
orang lain.
6.
Bagaimana
pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya
lingkungan yang positif, kondusif, aman, dan nyaman?
Jika pengambilan
keputusan dilakukan dengan cara yang tepat melalui proses analisis kasus yang
cermat dan sesuai dengan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan, maka
keputusan tersebut diyakini akan mampu mengakomodasi semua kepentingan dari
semua pihak yang terlibat dan resiko-resiko yang terjadi akibat dari keputusan
tersebut dapat diminimalisir. Dengan keadaan yang demikian, maka akan tercipta
lingkungan yang positif, kondusif, aman, dan nyaman.
7.
Selanjutnya,
apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda, yang sulit dilaksanakan untuk
menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah
ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?
Kesulitan-kesulitan
yang akan saya alami terkait dengan penerapan pengambilan keputusan berdasarkan
4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan
adalah masih sulitnya saya untuk beradaptasi dengan cara pengambilan keputusan
yang berdasarkan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengambilan dan
pengujian keputusan karena sudah terbiasa mengambil keputusan berdasarkan
nilai-nilai kebajikan yang ada di dalam diri saya. Dan hal ini juga berkaitan
dengan masalah perubahan paradigma di lingkungan saya.
8.
Dan
pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan
pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?
Pada konteks
merdeka belajar, proses pembelajaran yang dilakukan adalah yang berpihak pada
murid. Oleh karena itu, pengambilan keputusan yang dilakukan guru hendaknya
dapat menuntun dan memberikan ruang bagi murid dalam proses pengajaran untuk
merdeka dalam mengemukakan pendapat dan mengekspresikan ilmu-ilmu baru yang
didapatnya. Dengan demikian, murid-murid dapat mengambil keputusan yang sesuai
dengan pilihannya sendiri tanpa paksaan orang lain.
9.
Bagaimana
seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi
kehidupan atau masa depan murid-muridnya?
Ketika guru sebagai pemimpin pembelajaran
mengambil keputusan yang memerdekakan dan berpihak pada murid, maka dapat
dipastikan murid-muridnya akan belajar menjadi orang-orang yang
merdeka,kreatif, inovatif dalam mengambil keputusan yang tepat terkait dengan
masa depannya. Sehingga di masa depan mereka akan tumbuh menjadi
pribadi-pribadi yang matang, penuh pertimbangan dan cermat dalam mengambil keputusan-keputusan
penting bagi kehidupannya sendiri dan juga bagi orang lain.
10.
Apakah
kesimpulan akhir yang dapat anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan
keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?
Berdasarkan
pemikiran Ki Hajar Dewantara, salah satu peran guru adalah sebagai penuntun
bagi murid-muridnya. Tetapi sebagai penuntun, guru tidak asal-asalan dalam
menuntun murid-muridnya,guru harus memiliki nilai-nilai yang positif di dalam
dirinya, yang akan menuntun murid-muridnya ke arah yang benar. Jika guru
memiliki nilai-nilai positif dalam dirinya, maka nilai-nilai tersebut dapat
menjadi dasar di dalam mengambil sebuah keputusan yang tepat dan bermanfaat
bagi kepentingan sekolah terutama yang berpihak pada murid. Selain memiliki
nilai-nilai positif, guru juga dapat mengambil keputusan melalui
pertanyaan-pertanyaan reflektif yang akan menstimulus otak untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan reflektif tersebut dengan tepat.

Komentar
Posting Komentar